about me
>> bornNeo
>> male
>> april 13
>> in melancholy field.
links
wishlist
>> having you FOREVER =)
>> private Internet cone
>> an Audi TT
>> having you on time =) (obsolete)
shout me
my thought
"Close your eyes,
give me your hand, darling
Do you feel my heart beating
Do you understand
Do you feel the same
Am i only dreaming
Is this burning an eternal flame
I believe it's meant to be, darling
I watch you when you are sleeping
You belong with me
Do you feel the same
Am i only dreaming
Or is this burning an eternal flame
Say my name, sun shines through the rain
A whole life so lonely
And then you come and ease the pain
I don't want to lose this feeling"
archives
February 01, 2004February 08, 2004February 15, 2004February 29, 2004March 07, 2004March 28, 2004
|
recent thoughts
Wednesday, March 31, 2004
...buzz. Hang on, Neo.
...
...THIS SITE IS IN CONSTRUCTION AND RENOVATION.
...PLEASE DO NOT BOTHER LOOKING AT IT FOR A LONG TIME.
...
...THERE WILL BE NOTHING ELSE YOU WILL GET FROM THIS SITE.
...
...perhaps, I'm tired of life. [sigh].
bornNeo wrote the thought on 1:32 PM.
---------------------------------bornNeo---------------------------------
Comment my thought >>
Sunday, March 07, 2004
I'm tired... let me rest.
...Rally sudah selesai. Tapi sama sekali nggak ada kepuasan di hatiku. Kenapa, ya ? Mungkin aku kecewa. Aku berharap banyak pada event ini, namun ternyata jadinya malah begini. Atau cuma sifatku yang suka berapi-api di awal, namun padam di pertengahan. Atau karena masalah yang terus datang selama Rally, mengalihkan semangat dan segala macam tempatku berpegang ? ...Rally sudah selesai, dan yang aku dapatkan cuma rasa kesal, list hukuman yang belum dijalankan dan tagihan kaos yang belum dibayar. What the hell is going on with me ?
Kemaren hari terakhir Rally. Kumulai hari seperti biasa, membangunkanmu pagi-pagi untuk kuliah shift satu. Lalu bermalas-malasan sampai jam satu siang, sama sekali tidak ada semangat untuk bangun dan beranjak mandi, namun kupaksakan. Selesai mandi dan berpakaian, malah jadi terdiam di depan pintu. "Ya ampun, hari ini aku mau jalan ke mana... ? Ke Anggrek ? Ke Sekret ? Kuliah ?" Kupaksakan berjalan, akhirnya malah sampe ke warnet dan terjebak selama dua jam di sana karena hujan.
[sigh]... seharian kerjaanku nggak jelas. Jalan ke sana, jalan ke sini. Di sekret pun sama saja. Guling di sana, guling di sini... Ngelamun di jendela ruang serbaguna, melihat ke kanan... lalu melihat ke kiri. Kutelpon dirimu, katamu kau lagi jaga. ...[smile] mendengar suaramu sebentar sudah cukup untuk membuatku tersenyum... untuk sementara... toh sekian menit kemudian aku kembali terhanyut dalam lamunanku. Aku ingin berada di sampingmu saat itu, namun aku yakin pasti ada seseorang yang kesal kalau melihat hal itu kulakukan [mengesalkan !]. Lagipula, kau sedang bertugas dan mereka pasti menggunakan alasan tersebut untuk mengganggu kita. Sudahlah, biar kubayangkan kini kau ada di sisiku.
Masalah kemaren malem... jangan terlalu dipikirin. Memang nggak gua pikirin kok. Udah lupa, hahaha [memaksa ketawa]. Udah jangan dipikirin, dah lupa kok. Lagian nggak baik kan terlalu banyak mikir ?
-----------------------------------------
Staring at the moon so blue
Turning all my thoughts to you
I was without hopes or dreams
I tried to dull an inner scream but you
saw me through
Walking on a path of air
See your faces everywhere
As you melt this heart of stone
you take my hand to guide me home and now
I'm in love
You took my heart away
when my whole world was gray
You gave me everything
and a little bit more
And when it's cold at night
and you sleep by my side
you become the meaning of my life
Living in a world so cold
you are there to warm my soul
You came to mend a broken heart
You gave my life a brand new start and now
I'm in love
Holding your hand
I won't fear tomorrow
Here were we stand
we'll never be alone
--You Took My Heart Away
bornNeo wrote the thought on 2:53 PM.
---------------------------------bornNeo---------------------------------
Comment my thought >>
Tuesday, March 02, 2004
[sigh]... one and another.
"...have we done the right thing ? Everyone seems dont like it."
...ack, ternyata Rally itu melelahkan. Phisycally and mentally. Mengerikan, dari jam enam pagi sampe jam sembilan malem, jeda bentar, terus lanjut lagi sampe jam dua pagi... Hahaha, semua kayaknya cuma sampe jam sembilan malem, ya. Gua beda sendiri, lanjut sampe jam dua, capek mental... Nice to chat with you, dear. Kemajuan pesat, ya. Benar-benar di luar perkiraan. =)
Why is everyone looking at me ? ...or at US, lately. Have we done something wrong ? Atau ada jealousy di dalam diri kalian ? [sigh]. Ada yang terus ngomong ke gua, "...kenapa harus terlalu mikirin pendapat orang ? Kenapa harus TERLALU DIPIKIRIN ?" Gua cuma bisa tersenyum dan berkata di dalam hati, "...itu yang gua lakukan setiap hari, sekian tahun terakhir..." Say what, thank you ...tapi hal ginian sudah mendarah daging. Sulit dilepaskan. ...atau mungkin lu mau ngajarin gua ? =) ...aaah, tapi nggak ngefeeek, masih gua pikirin jugaaaa. Mata mereka itu berbicara dan gua merasa bisa membacanya. ...gua nggak suka akan apa yang gua baca di mata mereka saat liat gua. Gua bertindak seakan-akan nggak perduli, TAPI HECK, GUA PERDULI !! ...jadi sekarang kalian sudah tahu ? I can read your eyes. Bikin pusing, tau nggak. Ngomong aja langsung napa... pengecut. Bisanya cuma menatap. >=[
[sigh] ...akhirnya gua tahu kegiatan yang paling melelahkan. KANGEN. Damn. Makin lama makin parah... untung masih bisa dimengerti. Kalo nggak pengertian, duh... harus gimana. Thank you, my bear. Lu kok tahan banget, ya... Hmm. Jalan pikiran lu memang sulit dimengerti. =)
---------------
...siapakah dirimu ? Aku seperti demam mengenalmu.
bornNeo wrote the thought on 8:48 PM.
---------------------------------bornNeo---------------------------------
Comment my thought >>
Saturday, February 21, 2004
...amin. (Amin ?!)
...[sigh].
...
...kurasa aku tak perlu lagi menulis untuk masa depan, ya. Hahaha, sebab ternyata masa depan malah terjadi tapat di saat aku menulisnya, bahkan sebelum aku menuliskannya.
"...always in motion, future is," begitu kata Yoda, karakter favoritku. Tapi harus kuakui, menulis masa depan itu menyenangkan. Kau... merasa bagian dari ceritaku ? Baguslah kalau kau menyadarinya. Isinya memang tentang kau. ...dan yang harus kau ketahui, aku tidak menulis cerita baru-baru ini saja. ...seandainya aku punya laptop atau flash disk yang bisa dicolok ke USB di kepalaku, sudah dari kapan-kapan aku meluncurkan buku pertamaku. Judulnya, "Kau... tak pernah begini."
...tapi mungkin aku akan membuat site baru yang terpisah dengan site ini. Mungkin namanya... apa ya... entahlah, tak terpikirkan. Tapi yang pasti, isinya total cerita. Hahaha, iya masih fiksi. Menulis fiksi yang kau harapkan menjadi non fiksi itu menyulitkan sekali, ya... apalagi kalau semuanya sudah obsolete dan terjadi. Tidak ada lagi yang bisa diramalkan. Sebenarnya, ada kenikmatan di dalam setiap kegagalan dari perkiraanku. Seperti tantangan besar... kuharap kau tetap seperti itu. ...tapi tolong jangan terlalu sering. 13 kali itu udah kelewatan, kan...
...thanks for the chance.
...thanks to all of you.
"...never thought it would end up this way." --Like I Love You, Justin Timberlake.
bornNeo wrote the thought on 3:38 PM.
---------------------------------bornNeo---------------------------------
Comment my thought >>
...Bolehkah ?
...malam ini melelahkan sekali. Aku tengah di dalam perjalanan pulang menuju kosku. Hujan gerimis menyapaku sejak aku menapakkan langkah pertamaku tadi. Udaranya dingin sekali. Orang-orang di sepanjang jalan tampak malas melakukan hal-hal sehingga mereka cuma duduk nongkrong-nongkrong nggak jelas. Ah, dingin ini tak sebanding dengan isi pikiranku sekarang. Penuh dengan pikiran dan bayangan akan satu hari ini. Penat sekali.
Gerbang kosku sudah di depan mata, kulihat bapak yang membuka warung soto di depan kosku. Aku dan anak kos lainnya sudah terbiasa untuk membeli sotonya dengan berteriak dari jendela kamarku. Sotonya enak, dagingnya empuk sekali. Sebuah kualitas yang sulit ditandingi soto-soto lainnya di sekitar kampus. Ia tengah duduk di beranda rumahnya, merokok dan minum kopi. Pasti tengah menunggu anak gadisnya yang belum pulang dari kuliah. Anaknya keren, sering kulihat dari jendela saat aku bangun pagi. Tapi, ah, aku sudah keburu menyukai gadis lain.
Aku meraih gerbang kosku, membuka dan menutupnya dengan gaya khasku. Aku melatihnya satu setengah tahun terakhir dan kini sudah sempurna. Ah, gerbang ini masih berderit seperti biasa. Kenapa sedikit sekali ada orang yang punya telinga normal sepertiku. Malam ini akan membosankan sekali, pikirku. Aku meraih kunci dan menyadari, ada seseorang di sebelahku.
Pikiranku salah, malam ini akan menjadi malam yang luar biasa sekali. Aku menoleh ke arah samping, mencoba mengenali sesosok tubuh yang tengah duduk di bangku di depan kosku. Dan dalam beberapa detik, aku sudah mengenalinya.
Ada dia di sana. Gadis yang selama ini aku sukai. Duduk dengan tenangnya dengan wajahnya menatapku tanpa henti. Wajahnya tampak begitu kacau. Dia pasti tengah punya masalah. Aku tak ingin menanyakan masalahnya lebih lanjut, sebab ia pasti bakal merasa kesal.
Aku menghampirinya dan berjongkok di depannya.
"Kenapa ? Ngapain di sini ?"tanyaku padanya.
"...bawa gua masuk. Jangan tanya kenapa," sahutnya singkat.
Aku menghela napas panjang dan berdiri. Kulepaskan jaketku dan kuberikan kepadanya. Tanpa banyak pikir ia menerima dan segera memakainya. Kurogoh kunci kosku dengan perasaan berdebar, apa yang akan terjadi dengan kehidupanku setelah malam ini.
Sesaat kemudian, kami sudah berada di dalam kosku. Aku masih dikuasai perasaan gugup dan berdebar, dan sialnya, perasaan itu makin menjadi-jadi. Untungnya ruang tamu depan di sekitar pintu agak gelap, lampunya mati, dan memang seharusnya demikian, karena yang biasanya rajin menghidupkan lampu depan adalah aku sendiri. Selain itu, ia juga terus-terusan menunduk entah memikirkan apa, tentu saja ia tak akan menyadari kegugupanku.
Ah, kegugupan ini belumlah apa-apa ! Tak lama kemudian tubuh dan kepala ini rasanya ingin meledak. Aku baru saja ingat, di kosku ini, teman wanita tak boleh dibawa masuk ke dalam kamar. Sial ! Kenapa aku baru ingat, sementara aku sudah terlanjur membawanya masuk sampai ke ruang tamu ! Kepalaku mulai pusing, menyusun prioritas, antara peraturan kosku dan dirinya. Tak mungkin terus kutahan dia di ruang tamu sementara aku tidur di kamarku seandainya ia tak mau pulang. Hell, pikirku. Dia jauh lebih penting dari apa pun. Hell, bu kos, aku selalu bayar uang kos tepat waktu, kok.
"Kenapa ?" tanyanya membuyarkanku dari pikiran panjangku.
"...eh ? Nggak. Nggak ada apa-apa," jawabku agak gugup.
"...ayo," aku mengajaknya naik ke lantai dua di mana kamarku berada. Kuraih tangannya tanpa sadar, dingin sekali. Saat sudah di depan tangga aku baru menyadari, ya Tuhan, aku tengah menggenggam tangannya. Ironisnya, di kala aku berdebar-debar sampai hampir mati, sama sekali tak ada perubahan emosi di wajahnya.
Aku menaiki tangga dengan perasaan was-was, berharap tak ada yang melihatku, dan syukurnya memang tak ada yang melihatku. Pintu kamarku sudah berada di depan mata. ...syukurlah, memang tak ada yang melihatku. Kubuka pintu kamar tanpa melepas tangannya. Aku ingin memegang tangannya selama mungkin, tapi baru saja aku menyadari, tak mungkin aku membuka sepatu sambil terus memegang tangannya. ...mau tak mau, kulepas tangannya dan kubuka sepatuku.
Kuraih tangannya, tak dingin lagi, kurasa karena genggaman tanganku tadi. Kutarik ia pelan masuk kamarku. Ia sedikit menolak, hatiku berdegup kencang karenanya. Oh, iya. Ia belum menanggalkan sandalnya. [phew], lega sekali, kupikir apa... Kuhidupkan lampu kamar dan kubiarkan ia "berkenalan” dengan kamarku sementara aku meletakkan barang-barangku di berbagai sudut kamarku.
"Berantakan sekali," ucapnya pelan mengomentari buku dan kertas yang berserakan di bawah ranjangku.
"Selamat datang ke kerajaanku. Aku lebih suka seperti ini. Suasana rapi membuatku risih," kataku.
Ia berjalan menuju ranjangku, menginjak buku-buku yang berserakan di bawah tanpa perduli. Dirapihkannya beberapa bantalku. Aku punya banyak bantal di ranjangku, dan tak pernah kususun seperti makanan Jepang yang rapi, toh dalam sesaat pasti akan berantakan lagi dan aku tak punya banyak waktu di pagi hari untuk merapihkannya kembali.
"Nggak usah dirapihin. Percuma, nanti juga..."
"Siapa yang ngerapihin buat lu," potongnya tiba-tiba. Segera setelah ia meletakkan bantal terakhir, ia berbaring di ranjangku tanpa mengucapkan apa-apa.
"Anak sialan," pikirku. Dasar.
Aku keluar ke kamar mandi yang berada tepat di depan kamarku. Sekadar mencuci muka dan mengganti pakaianku. Tak mungkin kutinggal dia untuk mandi, aku tak mau meninggalkannya sendirian terlalu lama ...apalagi mengganti baju di kamar selagi dia tengah berada di sana. Tak lama kemudian aku kembali ke dalam kamar dan melihatnya tengah asyik membaca sekumpulan script cerita yang kutulis akhir-akhir ini. Sial, aku lupa menyimpannya di laci komputer tadi.
"Gua kayaknya kenal cerita ini," katanya. "...rupanya selama ini gua jadi peran utama, ya. Pantes aja lu nggak pernah suruh gua baca cerita-cerita lu. Semuanya isinya gua."
"...iya. Gua nggak bisa berhenti mikirin lu tiap malem. Jadi gua tuangin aja ke cerita. Semacem pelarian, toh orang nggak ada yang tahu kalo itu elu," jawabku singkat sambil meletakkan handuk di pintu lemari.
"...kenapa lu pikir gua bakal melakukan hal-hal seperti dalam cerita lu ini ? Bukannya ini terlalu jauh dari kenyataan ?" ia bertanya pelan.
Aku menoleh ke arahnya, ia tengah memusatkan perhatian ke satu kata. Kurasa tulisanku terlalu asal, menyulitkannya untuk membacanya. "Khayalan nggak pernah dekat dengan kenyataan, kayaknya lu perlu lebih banyak menghayal."
Aku mengambil sebuah buku dari lantai di sekitar ranjangku. Bentara -- Gelak Esai & Ombak Sajak judulnya, buku favoritku setiap malam tiba. Sebenarnya aku juga tengah berpikir keras. Di mana aku akan tidur malam ini ? Ah, sudahlah. Kurasa aku akan bersandar saja di ranjang menunggu pagi datang dan mengantarnya pulang ke kos. Dan itulah yang saat ini kulakukan.
"Lu mo tidur di mana ?" tiba-tiba ia membuka suaranya.
"Itu gampang. Udah tidur aja sana. Besok pagi gua anter lu balik ke kos. Kalo lu masih ada masalah, gua bantu selesain. Sekarang tidur aja yang nyenyak, sebentar lagi sudah ganti hari," sahutku sambil masih bersandar di ranjang dan membaca bukuku.
"Selama gua tidur, jangan mikir yang enggak-enggak," ujarnya pelan.
"...ngapain gua mikir yang enggak-enggak. Ndut gitu, sapa yang mo mikir yang enggak-enggak. Udah dibilang kurangin makan, malah makin parah makannya," balasku. Tiba-tiba ia melempar sebuah bantal ke kepalaku. Terima kasih, batinku. Aku memang sedang perlu bantal untuk bersandar.
...
[time passed]
...
Sudah jam tiga pagi, dan aku hampir menyelesaikan cerita baruku. Aku menegakkan tubuhku dan menoleh ke arahnya. Matanya terpejam. Ia tampak tidur nyenyak. Menggemaskan sekali. Seperti beruang. Aku cuma tersenyum dan menghela napas melihatnya. Seandainya hal seperti ini terjadi setiap malam ...memandangi wajahnya di kala tidur sudah cukup untuk menghilangkan isi pikiranku yang pusing bahkan memunculkan ide baru yang segar. Aku kembali merebahkan tubuhku ke lantai dan melanjutkan cerita yang terpotong. Kurasa aku menulis cerita ini untuknya... aku tertawa di dalam hati.
"Napa liat-liat ?" suaranya mengejutkanku. "Mo iseng, ya ?"
"...nggak. Cuma ngeliat lu bentar. Muka lu kalo lagi tidur lucu. Posisi badan lu juga. Kayak beruang," jawabku tanpa menegakkan tubuhku.
"Memang susah jadi orang lucu dan keren," ia tertawa ringan.
"Dasar... Kenapa belum tidur ? Lu kebangun ? Diliatin orang aja bangun..."
"Iya, gua memang gampang bangun kalo diliatin. Itulah, udah gua bilang susah jadi orang lucu dan keren."
Aku cuma bisa terdiam, dasar. Dari tadi ia terus menerus kelihatan bt abis, dan sekarang ia malah bercanda nakal. Entah apa isi pikiran anak ini ...nggak bisa dimengerti.
"...emang dari tadi gua belum tidur. Pusing, kebanyakan pikiran," tiba-tiba ia menjawab.
"Jadi, dari tadi ngapain lu di ranjang gua ? Bukannya tidur..."
"Ya ngeliatin lu. Dari tadi udah mo ketawa tapi gua tahan, lu tu kalo lagi mikir sendiri kayak orang gila, ya. Udah ngomong sendiri, ketawa sendiri, entar kayak orang marah, terus ngelamun ngeliatin hp. Kayak apa aja," ia tertawa.
"Sial. Itu namanya masa-masa imajinasi dan kreativitas. Orang kayak lu nggak bakal ngerti. ...mikirin apa lu ?"
"...orang kayak lu nggak bakal ngerti," ujarnya lirih.
Aku menghela napas panjang. "Ya udah," aku menjawab singkat sambil meraih botol minum dan meneguknya kemudian.
"Eh... lu lagi suka orang, ya ?" tiba-tiba ia bertanya padaku. Pertanyaannya amat mengejutkanku, membuyarkanku dari konsentrasi menulis.
Aku menegakkan tubuhku, menoleh ke arahnya dan memandang lekat-lekat matanya. "Kenapa tiba-tiba nanya ?"
Ia mengarahkan matanya ke tempat lain, tak berani memandang mataku dan membalas singkat, "...nggak papa."
"Iya. Gua lagi suka ama seseorang," jawabku tenang. Air mukanya berubah nggak jelas begitu aku menyelesaikan kalimatku. Ia kelihatan berpikir keras.
"Siapa ?"
"...elu," jawabku ringan sambil meletakkan tanganku di ranjang untuk menopang daguku dan memandangi wajahnya, mencoba menangkap perubahan yang akan terjadi pada wajahnya. Tapi aku salah, sama sekali tidak ada perubahan di wajahnya, ia begitu tenang, seakan ia telah mengetahui apa yang akan menjadi jawabanku.
"Lalu kenapa lu nggak nembak gua ?"
Aku menghela napas panjang, setengah terkejut atas pertanyaannya yang begitu to the point. "...gua nggak berani. Kalo gua lakukan, pasti hasilnya negatif, lagipula..."
"Sudah coba ? Tau dari mana bakal negatif ?" ia memotong kata-kataku yang belum selesai. Ia memandangku dengan tegas, aku berdebar karenanya, dan sekarang justru aku yang kehilangan ketenangan emosi yang dari tadi sudah aku bangun.
Aku membenamkan kepalaku ke bantal, berpikir keras tentang apa yang dia lakukan saat ini. Apa maksudnya ? Ia tengah mempermainkanku ? Kurasa tidak, aku yakin dia bukan tipe orang yang seperti itu. Lalu apa maksudnya ? Apa aku harus terus sengaja tenggelam dalam permainannya atau aku harus berpikir sebelum melangkah ?
Aku mengarahkan pandangan ke arahnya, tapi masih bersandar di bantal, berdegup kencang dan tidak konsentrasi. "Lu mau gua mencoba ?"
"Kenapa enggak ? Lu takut ?"
"...iya. Kalo jawaban lu ternyata adalah jawaban yang bukan gua harapkan, entah apa gua masih bisa melanjutkan hidup."
"Pengecut. Belum coba, ya mana tahu..."
Aku menatapnya lekat-lekat, berusaha untuk membaca sedikit saja maksud dan taktik di wajahnya, namun sama sekali tidak terbaca. Tidak ada apa-apa di sana, hanya sebuah wajah menggemaskan yang kini tengah menantangku tajam. Aku tahu, mudah untuk mengatakan kalimat tersebut, namun feedback yang akan muncul, itulah yang tidak bisa kupikirkan sama sekali.
"...gua suka lu. Udah lama banget. Kemarin gua udah bilang ke lu isi hati gua, kan ? Sekarang gua minta lu untuk jadi pacar gua, would you be my girl ?"
Ia tersenyum memandangku. Bantalku dipeluknya erat-erat. Kurasa ia agak sedikit malu, tapi ia berusaha untuk menutupinya. Aku mulai bisa membaca tanda-tanda positif, namun aku tidak terlalu yakin, kurasa aku salah baca seperti biasa. Selama ini aku selalu berusaha untuk membaca setiap gerakannya, tindakannya, air mukanya, semuanya hanya untuk memperkirakan tindakannya, namun hasilnya nihil. Dia seperti sebuah buku sihir yang harus dibaca dengan trik. Namun kadang kupikir...
"Iya. Itu bukan masalah bagi gua", tiba-tiba sebuah kalimat keluar dari mulutnya, pelan namun membuyarkan semua pikiranku, semua fokusku, bahkan kupikir separuh dari kesadaranku. Aku hampir tak percaya, masih kupikir aku salah dengar atau dia tengah bercanda, namun senyumnya serius sekali. ...ah, sial, aku kehilangan seluruh kemampuan berpikir saat ini !! Aku hanya terdiam di depannya, tidak bisa berbuat apa-apa.
Ia mengarahkan pandangan ke jendela dan menunjuk ke arah tersebut. "Bintang-bintang itu, yang kau kirim, mereka berhasil meyakinkanku kalau kau memang patut untuk jadi my man."
"Tapi gua kan..."
Ia membaringkan tubuhnya, menarik selimut dan menutupi tubuhnya, tidak memperdulikan kalimatku yang belum kuselesaikan. "...ngantuk. Besok gua jalan-jalan ke luar kota. Bangunin gua jam setengah enam, ya. Gud nite !"
...dan ia tertidur. Meninggalkanku dalam kebengonganku yang belum pudar sedikit pun. Ya ampun, aku bahkan belum menangkap sedikit pun inti dari malam ini dan tiba-tiba aku jadi pacarnya ! APA YANG TERJADI MALAM INI ?!
...
[time passed]
...
Sudah tiga jam aku memandangi langit-langit kamarku. Pikiranku masih kosong, padahal aku sudah berusaha sebisa mungkin untuk memikirkan apa saja. Aku ingin sekali percaya dengan kata-katanya, namun aku takut kalau saja kini aku tengah bermimpi dan suatu saat nanti aku terbangun dan menyadari bahwa dia bukanlah milikku. Kutampar pipiku... duh, sakit juga. Sial, ternyata aku tidak bermimpi.
Ah, aku tahu, kurasa aku akan menulis saja. Selama ini selalu berhasil membuatku lupa akan pikiranku. Aku menegakkan tubuhku, mengambil sepucuk kertas kosong dan pena biru. Kuteguk sedikit botol berisi suplemen effervescent favoritku dan membayangkan kerangka ceritaku. Aku tersenyum dan mulai menulis kalimat pertama di sana...
...
...
"...seandainya gua minta kesempatan untuk mengenal lu lebih dekat, tapi bukan sebagai teman, boleh ?"
bornNeo wrote the thought on 3:34 PM.
---------------------------------bornNeo---------------------------------
Comment my thought >>
Thursday, February 12, 2004
Tawa Bintang
"...seandainya kita seperti bintang, ya."
----------------------------------------
Malam ini terasa berat sekali. Kepalaku tak bisa berhenti berpikir. "Aku ingin tidur !," teriakku, tapi mana ada orang yang tidur sambil berpikir. Sudah tiga jam aku hanya berguling-guling tak jelas di ranjangku. Aku membangunkan tubuhku dan melihat ke sekeliling. Gelap. Hanya ada aku dan suara nafasku. Aku berjalan ke arah pintu kamarku dan beranjak keluar.
Di luar aku membaringkan tubuhku di hamparan rumput yang ada di depan kamarku. Kotor, tapi aku tak perduli, bukan aku yang mencuci semua pakaian kotorku.
Bintang ramai sekali malam ini. Mereka bercanda di atas sana, menari berhamburan tanpa pola yang jelas. Indah sekali. Seandainya aku salah satu dari mereka, pikirku. Pikiranku mulai teralih ke bintang-bintang tersebut, mencoba mencari sekumpulan bintang yang dikenal dengan nama rasi beruang yang kini seharusnya ada di utara. Aduh, sial, tidak ada matahari maupun bulan, dari mana aku tahu sebelah mana yang utara...
...
...
"Eh, belum tidur ? Ngapain lu di sini ?" sebuah suara mengejutkanku ringan.
Aku menoleh ke kiri dan melihat sebuah wajah yang familiar, seorang gadis lucu dan menggemaskan, ...yang baru saja kutembak beberapa jam yang lalu, berdiri di sampingku masih dengan pandangannya yang khas itu. Aku bersikeras untuk tidak menyebut tindakanku beberapa jam yang lalu dengan kata "menembak". Tapi tradisi dunia terlalu kuat sehingga mau tak mau harus dinamakan "menembak". Aku punya alasan sendiri, aku cuma mengatakan isi hatiku tanpa berharap agar ia mau menjadi milikku. Aku tak tahan kalau harus memendamnya lebih lama. Atau mungkin aku takut akan jawabannya, mencemaskan sebuah jawaban yang tak kuharapkan sehingga aku lebih suka untuk tidak mendengar jawaban sama sekali. Tapi peduli apa, sekali lagi tradisi terlalu kuat, yang namanya "menembak" selalu perlu jawaban.
"Hei, ngapain lu tidur di sini ?" tanyanya lagi.
"Nggak papa. Gua Cuma nggak bisa tidur. Kebanyakan pikiran. Kupikir dengan menghitung bintang, bisa membantu gua untuk terlelap," jawabku.
Terdengar tawa kecil darinya. "Banyak pikiran ? Rasain. Sapa suruh tadi nembak gua. Sekarang kepikiran, kan," sahutnya ketus.
Aku hanya tersenyum simpul. "Gua nggak nembak lu. Gua menyatakan isi hati gua," bantahku.
"Ya itu namanya nembak ! Banyak alasan..." potongnya sambil duduk di sampingku.
"Lu sendiri napa belum tidur ?" tanyaku ingin tahu.
"Enggak bisa tidur. Kebanyakan pikiran," jawabnya pelan.
"...sorry. Bukan maksud gua untuk buat lu nggak bisa tidur. Gua tadi..."
"Yee, sapa bilang gua mikirin tindakan lu ? Dasar tukang gr," potongnya sebelum aku sempat menyelesaikan kata-kataku.
Aku terdiam untuk beberapa waktu sebelum akhirnya kembali bertanya, "Lalu karena apa ?"
"Ada, deh. Nggak perlu tahu," jawabnya sambil tersenyum nakal.
"Dasar centil..." ujarku dalam hati.
...
...
...lalu kami terdiam. Malam kembali menjadi hening, tapi aku masih bisa mendengar tawa bintang-bintang yang menonton kami dan detak jantungku sendiri. Aku ingin membuka suara, namun sama sekali tak ada energi yang bisa kualokasikan ke bibirku. Semuanya habis terpakai untuk menjaga tubuhku agar tak meledak di tengah kebisuan ini. Aku mengalihkan pandangan ke arahnya, melihat wajahnya yang ternyata juga tengah memandang ke arahku. Tapi kami masih saling membisu satu sama lain. Hanya ada suara jantungku yang terus berharap agar ia mau membuka suara duluan.
"Eh," terdengar suara lirih dari bibirnya. Aku lega bukan main.
"...gua mo nanya pendapat lu," katanya pelan. Aku menatap matanya, ada rasa canggung luar biasa di sana, kelihatan jelas, tapi aku sedang tak ingin memikirkannya, ada kata-kata darinya yang harus kuberi perhatian lebih saat ini.
"...gimana reaksi lu kalo lu ditembak orang ?" tanyanya tajam.
[deg]. ...jantungku berdegup kencang, tapi aku berusaha untuk terlihat tenang. Seorang pria dingin harus terus terlihat tenang dan aku ingin memegang teguh aturan tersebut. Apa maksudnya ia bertanya seperti ini ? Ia mencoba mengembalikan kejadian sekian jam yang lalu, atau ia hendak mengajakku untuk berpusing ria, memikirkan jawaban atas "tembakan"-ku sendiri ? Mataku tetap menatapnya, namun pikiranku sibuk berdialog sendiri.
"Hei ! Malah ngelamun ! Dijawab dong," rengeknya manja.
"...napa ? Lu baru aja ditembak orang ?" tanyaku sambil berusaha untuk tetap terlihat tenang.
"Mau tau aja ! Jawab dulu, lah," sahutnya cuek sambil mengalihkan pandangannya dariku.
"...ya, suka-suka gua. Kalau gua memang lagi suka dia, ya pasti gua sambut. Terus kalau kira-kira gua bisa dan bakal suka dia, ya jawaban gua pasti minta waktu untuk mengenal dia lebih dekat. Tapi kalo memang nggak ada prospek, ya mau jawab apa lagi," jawabku diplomatis sambil kembali mengarahkan pandanganku ke langit dan para bintang.
"...begitu, ya," jawabnya pelan. Setelah itu, aku tak mendengar suaranya untuk beberapa waktu. Aku yakin ia tengah berpikir keras saat ini. Aku ingin menoleh ke arahnya, ingin melihat bagaimana wajahnya saat berpikir serius, tapi aku takut akan merusak konsentrasinya.
"...bagaimana dengan yang nggak ada prospek tadi ? Apa mereka nggak dapet kesempatan kedua atau apa, gitu ? Langsung jawab No ?" tanyanya pelan. Pelan sekali, tapi aku masih bisa menangkap seluruh kata-katanya.
Aku menghela napas panjang. "...untuk menyukai orang lain, adalah hak dari setiap orang. Tapi dengan menyukai seseorang, kita sama sekali tidak melabeli orang tersebut dengan kewajiban untuk menyukai kita kembali. Atau untuk mencoba menyukai kita sekalipun. Dia berhak untuk menyukai siapa pun. Lebih lanjut lagi, tindakan menyukai dan disukai, adalah dua hal yang berbeda. Jadi sebuah tindakan menyukai, sama sekali tidak harus diikuti dengan tindakan disukai ataupun tidak disukai," jawabku panjang lebar.
"Tapi kan biasanya..."
"Nah, di situlah masalahnya. Kita terlalu banyak membangun tradisi kita sendiri dan menyembahnya. Ada aturan cewek nggak boleh nembak lah, kalo Valentine harus pake coklat lah, kalo udah suka sama suka harus jadian dan nginget tanggalnya lah, aneh-aneh semua. Dalam hal ini, nih, karena cewek-cewek ataupun cowok-cowok merasa harus menyukai kembali orang yang menyukai mereka, mereka menjadi "takut" disukai. Takut disukai oleh orang yang tidak mereka harapkan. Sehingga begitu mereka disukai oleh orang yang tidak mereka harapkan ini, mereka akan memperlakukannya dengan kasar atau apa, agar mereka berhenti disukai," potongku sambil kembali menjelaskan dengan panjang lebar.
"Nangkep ?" tanyaku sambil mengalihkan pandanganku ke arahnya.
...
"...nggak ngerti," jawabnya lirih sambil menunduk menatap rumput.
Aku tetap memandangi wajahnya, masih menggemaskan di tengah kebingungannya. Terlintas bayangan wajahnya saat ia tengah ceria, tidak pernah kusangka kalau dia juga bisa berpikir serius seperti ini. Aku tersenyum sendiri memandangi wajahnya, sementara tak lama kemudian ia sadar kalau aku tengah memandangi wajahnya.
Ia mengambil sejumput rumput dan melemparnya ke arahku. "Orang lagi bingung, lu malah kesempatan," sahutnya kesal.
Aku tertawa kecil sambil kembali merebahkan tubuhku memandangi langit dan para bintang.
"Seandainya bisa seperti bintang, ya. Bintang yang satu tak perlu perduli akan bintang yang lainnya. Mereka tidak menyukai maupun membenci bintang yang lain. Tak perlu pusing akan sosialisasi, bisa hidup tenang di tengah keramaian," ujarku pelan.
"...tapi sebuah bintang yang sendirian di langit yang luas, sama sekali tak memancarkan keindahan. Bagaimanapun, mereka tetap butuh bintang lain untuk bisa menghiasi langit ini," jawabnya.
Aku terdiam. Kata-katanya memang benar. Aku menoleh ke arahnya, bermaksud untuk menangkap emosi wajahnya. Ternyata ia tengah memandangiku, sambil tersenyum ringan, mengemaskan sekali ! Selanjutnya, kami kembali terdiam. Cuma memandang satu sama lain.
Setiap saat aku memandang wajahnya, selalu ada yang menarikku di sana. Entah apa itu. Rasa ingin tahuku tak pernah berhasil mendefinisikannya. Tawanya, senyumnya, rengekan manjanya, dengus kesalnya, cara duduknya, semuanya, selalu ada sesuatu di dalam setiap tindakannya. Kurasa, serius menyukai sesuatu yang membuatku penasaran bukanlah suatu hal yang baik, tapi kali ini aku benar-benar yakin, aku suka padanya, bahkan sejak pertama kali aku bertemu dengannya, ada yang memancingku, tapi aku tetap tak pernah mengerti apa itu. Aku hanya ingin terus memandang wajahnya, membuatku tenang.
Sejumput rumput tiba-tiba melayang ke arah wajahku. "Nggak gua yang bingung, nggak lu yang bingung, ada aja lu ngeliat kesempatan, ya," ujarnya.
"Udah ah, gua mo bobok. Ngobrol ama lu, banyakan diliatinnya, ngantuk gua jadinya. Mana dapet kuliah dari dosen cinta lagi," ujarnya sambil membereskan dirinya hendak beranjak dari tempatnya.
"Eh, centil, masih bingung ?" tanyaku padanya.
Ia terlihat termenung untuk beberapa detik sebelum akhirnya menjawab dengan senyum di wajahnya, "Nggak".
"Satu hal lagi."
"Gua tadi bukan nembak lu. Gua cuma mengungkangkap isi hati gua yang udah nggak tahan lagi gua pendem. Jadi kalo gua udah buat lu bingung malam ini..."
"Eh, tukang GR ! Yang bilang gua pusingin tindakan gila lu malam ini sapa ? Emang lu pikir gua musingin tembakan lu malem ini ? Atau lu pikir cuma lu doang yang nembak gua malem ini ?" potongnya segera.
[deg] jantungku berdegup. Orang lain ?! Ia memang bukan seorang gadis yang selalu serius di dalam kehidupannya sehari-hari, namun kali ini, di bawah langit ini, aku melihat keseriusan dan kejujuran di wajahnya, membuatku terpaksa menyimpulkan bahwa ia mengatakan yang sebenarnya. Aku ingin meledak, tapi kutahan begitu keras sebab aku harus terlihat tenang, hingga tanganku mencengkeram rumput yang ada di sebelahku.
Aku menghela napas panjang, aku tahu air mukaku kini pasti sudah berubah, maka aku merebahkan diriku ke tanah kembali memandang langit dan bintang-bintang yang kini tengah menertawaiku. "Seandainya kita seperti bintang, ya. Setiap bintang yang ada di atas sana, tak pernah saling memperebutkan bintang lainnya."
"Tapi bukankah setiap bintang punya hak untuk menyukai bintang lain yang mereka suka ?" balasnya.
Aku kembali terdiam. Kenapa kata-katanya selalu benar ? Kurasa tak ada gunanya untuk berdebat dengannya sebab di akhir perdebatan ia pasti akan mengeluarkan sebuah kalimat yang tidak bisa kupungkiri dan akhirnya ia menang.
"Masalah tindakan gila lu itu, sama sekali nggak gua pikirin. Soalnya sudah jelas, kan jawabannya ?" ucapnya sambil berdiri.
Aku menoleh ke arahnya, mengernyitkan alis dan memandangnya dengan serius, karena aku sama sekali tak mengerti apa yang dia maksud.
"Jangan gitu. Gua nggak ngerti maksud lu, jelas gimana ?" aku beranjak bangun hendak menjangkau tangannya.
Tapi ia dengan sigap mundur menjauhiku sambil menepuk-nepuk celananya membersihkan rumput yang menempel di sana sambil dengan santainya menjawab, "...pikirin aja sendiri."
Dengan kesal kembali kuhempaskan diriku sambil berujar, "Seandainya kita seperti bintang, ya. Begitu terangnya bersinar sehingga isi hati pun kelihatan jelas."
"Ah, itu salah lu sendiri. Semua orang bersinar, kok. Cuma lu nya aja yang buta. Seandainya lu buka mata lu, pasti lu kesilauan," jawabnya ringan sambil berbalik melangkah.
"Eh..," panggilku pelan. Ia menghentikan langkahnya namun tidak segera berbalik.
"...aku ingin menyergapmu seperti malam. Namun bulan pasti memperingatkanmu dan bintang-bintang bersinar menjagamu." Aku menghela napas panjang dan terus membaca penggalan salah satu sajak favoritku tersebut, "...bahkan bulan telah jatuh cinta padamu."
Aku menoleh ke arahnya dan terdiam, sebab ternyata ia tengah menoleh ke arahku dan tersenyum manis ...menggemaskan sekali. Argh, aku ingin sekali menelannya bulat-bulat. Berhentilah tersenyum, beruang kecil. Ingin sekali aku memintanya untuk tinggal lebih lama, menemaniku di sini memandangi bintang. Tapi bibirku tak bisa mengatakannya dan jantungku berdegup terlalu kencang.
"Good night, have a nice dream," ucapku lirih. Akhirnya benar-benar terjadi. Bibirku mengucapkan apa yang tidak aku perintahkan. Kesal sekali rasanya, tapi sudah terlanjur terucap begitu saja.
"Gud nite juga. Cepetan tidur, jangan banyak mikir gak jelas," jawabnya sambil beranjak pergi. Dan kali ini ia benar-benar pergi, meninggalkanku sendiri di sini bingung memikirkan kata-kata terakhirnya tadi.
[sigh...] seandainya kini aku menyadari bahwa aku tak tengah sendiri. Ada bintang-bintang yang menemaniku saat ini, yang tahu isi hatinya yang sebenarnya, tentu aku tidak akan sebingung ini malam ini.
...
...
...tapi...
...mataku terlanjur terpejam dan jiwaku bermimpi. Tentang manusia yang menjadi bintang. Yang terbang bebas dengan bintang-bintang lain bersinar memancarkan isi hati dan menyukai bintang lainnya. Menari setiap malam menertawakan dua insan yang tengah berkutat, tentang cinta dan masa depan.
bornNeo wrote the thought on 10:53 PM.
---------------------------------bornNeo---------------------------------
Comment my thought >>
Wednesday, February 11, 2004
Dengar AKU kali ini, Dengar dan lihatlah suaraku
...sebab sudah terlalu lama aku mendengar suara matamu.
--------
Terlalu sulitkah untuk melihatnya, bahwa kau adalah awal dari segalanya. Awal dari asaku, mimpiku, dan perjalanan panjangku Ya aku tahu, hal ini kelihatan bodoh dan konyol, tapi aku ingin kau tahu bahwa kata-kata darimulah yang setiap hari ingin kujadikan awal dan akhir dari hari-hariku. Coba bayangkan, apa jadinya diriku tanpa eksistensimu ?
I was so wild, untamed and disoriented. Adventuring to many sides of life. But look at me now... seperti orang timpang, tubuh dan jiwaku miring ke satu sisi, sisimu. Aku menyadari hal tersebut sepenuhnya, tapi aku sama sekali tak bisa menerimanya. "Aku orang bebas", kataku. Tapi tatapanmu terlalu mengikat diri, jiwa dan segenap pikiran di rongga kepalaku setiap saat aku diterpanya. Suara matamu, begitu aku menyebutnya.
Maka aku pun mulai menghabiskan waktu hidupku dengan berlari dari tatapan suara matamu. Kubangun dinding tebal arogansi dan kebanggaan diri, berharap aku hanya akan mendengar suara bibirmu, bukan suara matamu. Sebab "mata berbicara lebih banyak", dan aku yakin sekali hal itu benar. Dengan peluh dan sengal napas jiwa aku "kuyup sendiri menjaga keterasingan satu sama lain" mencoba menertawai suara matamu yang kini hanya sayup terdengar di duniaku dan puas untuk saat ini.
...
"maka seperti suara gaduh yang ditiupkan megaphone itu,
dadaku, menghentak mencari-cari ruang kosong tempat sembunyi
di tengah kerumunan lampu-lampu, ribuan mimpi pun gemetar
tenggelam dalam sebuah dunia yang kikuk: kau, rindu keparat yang mabuk ini,
betapa anggunnya menyalibku dengan denting
secangkir kopi--"
...
Namun aku salah besar, dan surga bergolak karenaku, wahai pujangga, bulan purnama dan ketua internal. Absence of your "suara mata" ...is truly my nightmare, cuma meninggalkan jiwaku yang sibuk mencari-cari sesuatu untuk menutupi kekosongan suara matamu sampai inderaku yang keempat belas.
...
"Dan di sini aku kembali menikung
melepas jejak dalam hilang
untuk memandangmu dalam jarak
agar kau tak bisa menyapaku
dan aku hanya temukan deja vu
sobekan wajahmu yang itu juga
Sebab tak ada yang bisa dikenali
dari keratan masa lalu yang rusak
dan gigil sepi di antara padang dekat
mimpimu ini (meski aku tak pernah
mewujudkan jadi tokohnya) namun
mengintaimu dari kejauhan
di mana orang tak akan temukan
kereta atau roda ke arahnya; telah kubunuh
semua yang mengantarmu ke arahku
maka jadilah aku matimu"
...
...perlahan, aku kehilangan kemampuan untuk memulai, bahkan untuk hal yang kecil sekali pun, karena aku terlalu terlambat untuk menyadari bahwa kau adalah awal dari segalanya. Maka dengan segenap jiwa dan intelegensia yang dimiliki primata ini, aku memutuskan, sudah saatnya untuk menghancurkan tembok ini ...dan kembali timpang ke arahmu.
[brak..] lubang pertama muncul dan berserak-serakan masuklah secuil hulu ledak yang mengandung konsentrasi tinggi akan suara matamu. Blar, benda kecil itu meledak dan memenuhi telinga, rongga kepala dan otakku, sampai tak ada lagi tempat tersisa di lubang hampa tubuhku. "Ya surga, selama inikah aku membutakan indera keempatbelasku ?"
Ah, surga memang kejam. Kembali aku menghabiskan waktu hidupku mencoba untuk membuka indera keempatbelasku sembari meruntuhkan tembok yang ...ya surga dan neraka, tebal sekali ! Kurasa kau tahu bahwa aku baru saja bisa "mendengar" lagi namun kau tetap di sana, gempal, tersenyum dan menggemaskan. "...kan lu yang punya masalah dengan gua", senyummu nakal. Anak sialan, pikirku. Ia bahkan belum sadar bahwa ia adalah awal dari segalanya. Ironis sekali, kini aku tengah berjuang keras untuk menghancurkan apa yang dulu kuperjuangkan untuk kubangun...
...
"tak mau aku, laut
seperti matahari sial itu
memaksa diri untuk memabukimu.
biarlah hanya
dari jauh aku terus mengakrabimu."
...
Suatu malam, seekor bintang kecil berceloteh di jendela kamarku. "Mungkin kau suka dia, kau menyadarinya, tapi kau tak mau mengakuinya bahkan kepada dirimu sendiri, kan ?" Aku tersentak, kutendang bintang kecil itu dari jendelaku. Ia terbang sambil menggerutu kesal. "Tidak mungkin !" teriakku mengepal ke langit. Dan malam kembali senyap... sebab hp-ku ku-silent, dan yang menemaniku cuma sekian getaran halus dari hp-ku sebelum aku tidur.
...
"hari ini aku melihat wajahmu
seperti patungpatung gerabah di Kasongan.
lalu hatiku tertawa, mengejek kenyataan hidup.
sebab masa lalu itu racun, dan kita
bersenang-senang atas kesedihan hari ini."
...
Malam-malam meditasi akan kata-katamu terlalu dingin dan menyentak, wahai bintang kecil. Sebab sebuah kesimpulan terlalu berat untuk kusimpan sendiri. ...sudah hakmu untuk menertawaiku saat ini, temanku, bintang kecil. Sebab aku sudah punya jiwa untuk bisa mengakuinya bahkan kepada diriku sendiri.
...
...
...
Demi pujangga, bulan purnama dan ketua internal, ketahuilah beruang madu.
"...Aku suka padamu."
---------
"mata berbicara lebih banyak...", Yosua Omimaru -- Suara matamu menusuk mataku
"maka seperti suara gaduh yang ditiupkan megaphone itu...", Moh Syafai Firdaus -- ritus pertemuan
"Dan di sini aku kembali menikung...", Taty Haryati -- Labirin
"tak mau aku, laut...", Saut Situmorang -- hanya dari jauh aku bisa mengakrabimu
"hari ini aku melihat wajahmu...", Dorothea Rosa Herliany -- Banyak Simpang, Kota Tua: Melankolia
"...Aku suka padamu...", Yosua Omimaru -- Dengar AKU kali ini, Dengar dan lihatlah suaraku
bornNeo wrote the thought on 6:59 PM.
---------------------------------bornNeo---------------------------------
Comment my thought >>
...continue our Efforts. We trust you, our sons and daughters.
malam yang sepi meliputi bumi tak terkecuali salah satu sekretariat computer club di dunia.
di kala semua terlelap dalam tidur dan terjaga oleh asisten maya mereka, aktivitas disalah satu server ruangan seclib bertambah. sebuah program kecil yang ditanam bertahun-tahun yang lalu kembali hidup,
"Opening file status : deleted", zeeeb....."Step one complete"......zeeeb.. "Continue to next step"..............
"Loading|||10%"....
"||||||||||||||||||||||||||||||||||72%",
"|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||100%"
zeeeit......................"Loading complete, continue to next session"
secuil gumpalan listrik berkelebat dari processor, menyebar ke segala arah menjelajah motherboard, vga dan berbagai komponen komputer lainnya. menyalin semua data informasi perkembangan computer club ini dari semua computer yang ada di sekretariat, semua computer ditembus tanpa terkecuali dan halangan yang berarti... konversi salinan data ke biner 1 dan 0 dikemas dalam sebuah program hologram yang langsung dikirim kepada pendahulu yang membuat program ini untuk memberitahukan keadaan penerus mereka yang sedang melanjutkan karya mereka ."Step two complete: file sent" seketika itu juga program kecil membereskan diri nya dan sembunyi lagi di tempat yang teraman, dan semua computer kembali berjalan seperti biasa.
nan jauh di sana di sebuah rumah pohon di tepi salah satu pegunungan di north land, angin berhembus sepoi di awal musim semi .. seorang anak manusia sedang melukis di halaman rumah pohonnya, melukis seekor semut yang sedang mengangkat makanan. Sengaja rumah pohon ini dibangun di belakang rumah nya ... supaya dia tetap bisa menikmati alam yang masih natural,di antara berbagai kehidupan modern yang ada di rumahnya. "Cukup untuk hari ini, saatnya kembali" setelah 3 hari menghabiskan waktunya di tempat yang damai, sang veteran beranjak kembali ke rumahnya. sebuah lift membawanya turun dari rumah pohon (sekuoia) setelah di bawah dijemput oleh supir cyber yang mengendarai Bufori nya. "Ocay Glend go home" , "Yes Sir"
"Welcome home sir, there were 5 messages waiting for u, Invitation from the White House, Appointment with Prince of Maroco on Monday, Check up day, Pers conference at Hyatt hotel Hong Kong, and the last strange message sounds bncc."
"Hm, bncc? sepertinya kata yang sangat familiar sekali.... " "Oh....... itu" sebuah kenangan masa muda yang lama sekali, "yeah ternyata riset kita berhasil, hahaha "
"Bring me the last message, Gil!", "Ocay , but Sir, the others is very important...." "No...no... Just do what I say...."
sebuah hologram muncul di depannya... memunculkan berbagai cuplikan video dari kamera rahasia yang pernah ditanam bersama seclib google V, berbagai tulisan juga muncul sembari melaporkan situasi dan kondisi dari komunitas tersebut sejak ditinggalkan dan di teruskan ke junior nya.
"ha..ha..ha..... great...." suara ketawa berat terdengar dari tengah ruangan. "Gil prepare the plane, i want to visit my old friend..!" "For a chat again sir", "Yeah, just for a few hour....... n then i'll come back again"
"harap loe juga mendapat kiriman pesan yang sama seperti yang gw dapat, ternyata sebuah kenangan lama muncul dan tiba2 ku ingin bertemu lagi dengan mu... tunggu gw di sana...." Pesan singkat dikirim melalui jaringan hologramnya...... ditujukan kepada salah satu pengelola perpustakaan dunia terbesar yang pernah ada, dan seorang konglomerat yang tetap berambut panjang sejak masa kuliahnya......
Hujan turun dengan derasnya sementara sang veteran sedang minum vodca caramel di limousinenya, setelah menempuh perjalanan pesawat 3 menit.
"halo Ndok, udah lama sekali nggak ketemu"......"Oi Dus, gw barusan terima pesan loe tadi, n gw juga mengalami hal yang sama." Kedua sahabat itu berjabat tangan dan berangkulan lalu duduk melanjutkan pembicaraannya...
"Hehe akhirnya hari ini tiba juga ya Ndok" ":) tampaknya memang prediksi kita ga meleset, dan misi yang kita siapkan dulu harus segera mulai Dus"..... "ocay no problem...... sesegera mungkin" "seperti biasa biarkan informasi mengalir sesuai rantai yang direncanakan....." "hhoahoahoa ternyata kita harus kembali menggunakan sistem ini lagi y..heaheahea.."
Pembicaraan berlanjut dengan hangat di sebuah ruang rahasia perpustakaan terbesar di dunia itu....... sementara beberapa peralatan dan kendaraan rahasia mulai beroperasi dan mempersiapkan diri di hangar rahasia di atas atap library itu.....
...........................
..........................
........................
was written by RDT. All credits are his.
bornNeo wrote the thought on 6:21 PM.
---------------------------------bornNeo---------------------------------
Comment my thought >>
I love You, Master. I was programmed for it.
Malam dingin sekali saat aku terbangun dari tidur. ...ungh. Aduh, kandung kemihku penuh. Aku bergegas berlari menuju toilet dengan terhuyung-huyung.
Sekeluarnya aku dari ruanganku, ruangan design terlihat gelap, cuma dihiasi neon ungu yang kami beli beramai-ramai tahun lalu waktu malam natal tiba...
"...ungh, jam berapa ini ?" pikirku sambil melihat jam. "...ungh, aku ketiduran di sekret lagi." Ini sudah hari kelima aku ketiduran di sekret. Setiap MFInternasional hampir tiba, hal-hal seperti ini pasti terjadi.
Aku melanjutkan lariku menuju kamar mandi, melewati meja-meja di ruangan design. Sesampainya aku di kamar mandi, aku segera masuk dan... [cuurr...] [ah...] aku merasa lega. Di sebelah kiri ku ada tiga tombol, dan aku menekan salah satu di antaranya.
[...flush] "...aduh, keteken yang enam liter. Kalo ketahuan seclib bisa gawat", pikirku.
Lalu aku mencuci tangan di sebelah kanan ruangan. WC ini, hasil kerjasama antara anggota ruang printing dan bitmap. Bulan lalu, seclib mengeluarkan peraturan baru, bila hanya buang air kecil, gunakan flush 3 liter. Sayangnya aku tak punya waktu untuk menghafal bedanya tombol flush enam dan tiga liter.
Aku kembali ke ruanganku untuk melanjutkan tidurku. Begitu aku memasuki ruangan, sebuah suara manis memanggil ku dari langit-langit.
"Neo ?" panggilnya.
"Yes ? What's up, Selene ?" jawabku.
"...umm. Do you love this community ?"
"...Selene, I was born in this community. It's not that I love it, but I live for it", jawabku serius.
"Oh."
"Why are you asking that ? I have never known that you're programmed for that", tanyaku bingung.
"...oh, nothing. Really. Nothing happens."
"Oh. Ok. I feel so damn sleepy. I have a date tomorrow... that girl will surely kill me if I'm late."
"Yes, Neo. Good night."
"Good night, too. Selene..." aku menghempaskan diriku di sofa biru itu.
Aku mulai terlelap sementara Selene mematikan lampu ruangan. Di sudut ruangan, di sebuah display untuk status Selene, sebuah pesan muncul, "File deletion is complete.." Selene berbisik lirih, "Good night, Neo. Live your life..."
bornNeo wrote the thought on 6:17 PM.
---------------------------------bornNeo---------------------------------
Comment my thought >>
What's Been Left by The Ancestors
dear Yos,"
begitu kalimat pertama yang muncul di plasma tv ruangan design borneo ketika Yosua sedang terlelap dalam mimpinya.
huruf..per huruf..muncul membentangkan kata - kata yang mengalunkan beberapa kalimat tidak berarti. ternyata waktunya telah sampai, sebuah pesan khusus yang disiapkan oleh para pendahulunya kini telah sampai pada batas idlenya dan muncul untuk memberikan pesan kecil para penerus .
bzzzeitttt..... halo yang di sana, gw ga tau zaman apa di saat kalian membaca pesan ini, tentunya akan banyak perubahan yang akan terjadi. Ingin sekali mengetahui keadaan anda-anda di sana. But gw cuman mau ngasih gambaran keadaan kita saat ini.......
bzzzeittt.... Terkadang sering timbul pergumulan dalam diri kita untuk menentukan prioritas yang paling tepat dalam menjalani hidup ini, bzzet.. oh pusing sekali kuliah neh, tugas bejibun, uh.....rapat..rapat..... di sini rapat di sono rapat.. oh pinjam ruangan....uh.......nginep laig..eh...design coi design... brumm dana.... priiiiiiitt polisi oi polisi, jangan sampe ketilang...... oh nyampe juga di wisma metropolitan. yoi proposal masuk, pulang brum.....shit kehujanan....
bzzeeit... membingungkan? ya gw harap, ga ngerti? gw juga harap demikian, ga enak? ya mungkin? apa hal itu benar2 terjadi? yup..kenapa loe orang mau?
bzzzeeiit.... adalah sebuah hal yang sangat sukar untuk ditemukan di dunia ini bisa berada dalam komunitas ini. mengemban sebuah tugas pelayanan yang bahkan memberikan pengorbanan dalam berbagai hal. but satu hal yang ingin kita dapatkan....... suatu "hal" yang tidak dapat kami beli dengan uang, suatu "hal" yang bisa kami rasakan mungkin seumur hidup kami. demi mengukir masa-masa muda yang berarti.
bzzzeeitt... nggak ada paksaan bagi anda-anda untuk mengerti ke semua hal yang di atas.. semoga anda bisa berkarya lebih jauh tanpa kehilangan existensi yang merekatkan kita semua selama ini...
teng tong.....ting...monitor memunculkan angka 30 yang menandakan hitungan mundur segera mulai untuk memusnahkan pesan ini.... 29...28
Borneo baru saja terbangun dari tidurnya sambil menguap dan mengusap matanya, dia merasa kebelet dan ingin ke toilet...... 18..17.. hitungan terus berjalan....
..............
..............
...........
--was written by RDT. All credits are his.
bornNeo wrote the thought on 6:06 PM.
---------------------------------bornNeo---------------------------------
Comment my thought >>
Sunday, February 08, 2004
My Dream
"...dreams. They keep me alive."
[...brrumm. Ciiitt.] Mobilku berhenti di depan sekretariat BNCC. Rumah keduaku, di mana aku bisa tinggal tanpa membayar uang sewa dan pajak. Ack, sial, mobilku terkena cipratan air hujan yang tergenang di jalan. Mobil baru padahal, ya memang murahan sih, cuma sebuah Audi TT baru yang kumimpikan sejak 3 tahun lalu. Tidak sebanding dengan Ferrari teman-temanku yang jauh lebih mementingkan gaya daripada impian. Ferrarinya harus polyphonic lah, bisa MMS lah, GPRS lah, apa lah lengkap dengan kabel datanya.
Aku keluar melangkah menuju pintu masuk. Teringat mobilku, aku melangkah dengan penuh hati-hati agar sepatu Nike Air '97 Classic hadiah pacarku tidak mengalami hal yang serupa.
"...huh, mungkin aku harus menyumbangkan sebuah atap untuk sekret. Parah... ketua keuangan tahun ini pelit sekali.", gumamku.
Di tengah jalan menuju pintu aku berpapasan dengan seorang aktivis yang tengah berjalan dengan pacarnya.
"Hai ! Malam minguan, ya ?", teriakku.
"Iya", katanya sambil malu-malu memegang tangan pacarnya yang kedinginan karena hembusan angin hujan. Melihat mereka, jadi teringat saat dulu aku masih aktivis dan mengejar pacarku yang saat itu adalah seorang pengurus yang populer sekali... Hahaha, benar-benar sebuah kenangan.
Akhirnya aku sampai juga ke pintu depan dengan sedikit terengah-engah. Semenjak sekretariat pindah ke tempat ini, kami semua jadi olahraga berjalan dari gerbang depan sampai ke depan pintu masuk. Terima kasih pada Papi, yang sudah capek-capek mau memperjuangkan sebuah lapangan golf yang terlantar dan menjadikannya sebuah sekretariat untuk kami semua. I love you, Dad. Walau begitu, aku masih juga kesal karena Papi menjual semua Golf Car yang ada.
"Kalau ada mainan begituan, safety Jo di tempat ini pasti nggak terjamin", alasannya. Huh ! Aku kesal sekali saat itu.
"SAFETY ?! Tunggu sampai dia tahu kalau aku selama ini kebut-kebutan dengan Audi TT yang kubeli dengan uang sakuku tanpa sepengetahuannya. Nah, saat itu beliau pasti akan bisa melihat, yang mana yang namanya safety", tampikku dalam hati kesal.
Tangan kananku merogoh dompet di kantong belakang celana panjangku. Dompet berwarna biru yang dibelikan pacarku saat valentine terakhir. Dompetnya sih, nggak special. Tapi photo-nya dan selembar surat yang dia selipkan di dalam dompet tersebut, membuatku mengerti, kalau dia juga suka padaku. Malamnya, kunyatakan isi hatiku dan dia menjadi milikku, hahahaha.
Kulihat jajaran kartu di dompetku. Banyak sekali isinya, memusingkan. Sudah kubilang sama Papi dan Mom, biar aku memakai Visa Card-ku sendiri. Tapi tetap juga mereka memaksaku untuk memakai Visa Card mereka. Untuk jaga-jaga katanya. "...Visa ...Master ...Social Card ...aih, di mana kartunya ...nah, ini dia." Kartu anggota BNCC berwarna biru itu, aku sendiri yang mendesainnya bersama seorang lagi yang merancang barcode system-nya.
"Tit..tit.. Welcome to BNCC's HQ." Sebuah suara muncul saat aku menggesekkan kartu tersebut ke sebuah card reader di dekat pintu. Pintu terbuka, memperlihatkan lorong yang panjang menuju ke sebuah pintu masuk yang lain. Aku menapakkan kakiku berjalan, sementara pintu depan kembali tertutup. Di sepanjang lorong, banyak sekali plasma display yang menampilkan informasi terkini. Kulihat salah satu karya terakhirku di sebuah plasma display bagian Art. Tertera tulisan, "Favourite(s) : 586." Melihat angka tersebut, aku berkata di dalam hati, "Akhirnya, mereka tahu juga yang namanya seni."
Di plasma display lainnya tertera harga-harga saham... sekilas tertangkap mataku sebuah grafik dengan angka-angka merah. "Sial, aku bisa rugi kalau begini..." ujarku dalam hati.
Sekarang pintu masuk itu ada di depanku. Aku menarik napas panjang merapikan kemeja dan rambutku, maklum, kebiasaan lama. Kubuka pintu, dan memasuki ruang lobbi yang begitu besarnya itu.
Seorang receptionist di sebelah kiri menyapaku, "Hai, Jo. Nge-design lagi ?" "Iya, biasalah, kalau mau dekat MF, ya begini", jawabku sambil mencoba untuk tersenyum ramah. Aku sudah sekian tahun di BNCC, tapi masih juga belum bisa berurusan dengan publik dengan baik. Mungkin aku harus lebih sering mengambil tugas MC.
Dua orang aktivis lain di dekat tangga ke lantai 2 yang tengah berbicara, teralihkan perhatiannya kepadaku dan berbisik satu sama lain, "...itu, tuh yang namanya Yosua. Orangnya eksentrik dan kompleks sekali."
Aku mendengar namaku sayup-sayup disebut, refleks menoleh ke sumber suara. "..ah, dia menoleh kemari... gila, dingin sekali.." bisik mereka. Aku hanya tersenyum kepada mereka dan melanjutkan langkahku ke lantai dua.
[phew...] Aku menghela napas lega. Lobby merupakan tempat yang paling mengerikan buatku. Terlalu ramai, dan penuh dengan penggemarku. Makanya aku selalu menarik napas dan mempersiapkan semuanya sebelum memasuki lobby.
Aku melihat sebuah pohon di depan pintu masuk lantai dua. "Apa ini ?", pikirku. Kubuka pintu dan melangkah ke dalam. Suasananya seperti hutan mini lengkap dengan suara-suara burung dan hewan lainnya juga air terjun mini di sudut ruangan. "Oh.. tema bulan ini Jungle. Kenapa bukan merah jambu ? Kan ini bulan Februari, sebentar lagi Valentine..." ujarku dalam hati.
Di sudut ruangan, kulihat seorang temanku tengah minum gin khasnya di drink booth. Kuhampiri dan kutepuk pundaknya, "Hei, teman. Apa kabar ?"
"Yah, beginilah", jawabnya.
"Masih masalah yang sama ?" tanyaku lagi.
"Iya..." jawabnya lirih sambil meneguk seluruh isi gelasnya.
"Sudahlah, lupakan saja. Mungkin dia bukan yang terbaik buatmu. Begini aja, bagaimana kalau kita buat SOP untuk design MF Internasional nanti ?" balasku.
"Iya... kamu pergi aja dulu, nanti saya menyusul." jawabnya.
Mendengar jawabannya, aku segera beranjak pergi meninggalkan drink booth. Dari dulu, akulah yang paling menentang Seclib mengenai masalah drink booth ini. Menurutku, fasilitas seperti itu justru akan merugikan kelak di kemudian hari. Dan aku mulai melihat pendapatku menjadi kenyataan sekarang.
Sebenarnya, banyak sekali kritik dan saran yang sudah aku sampaikan kepada Seclib, tapi entah semua suaraku itu hilang ke mana. Kesal sekali, rumahku diperlakukan seperti ini.
Pusat dari sekretariat adalah lantai dua. Secara deskripsi, lantai satu lebih diutamakan untuk lobby, kantor PR, MF, EEO dan Internet. Lantai tersebut selalu penuh dengan orang-orang dari berbagai kalangan luar BNCC. Klien perusahaan lah, sponsor lah, media publikasi lah, sampai pengacara-pengacara yang sibuk menuntut atas artikel klien mereka yang kami muat di Bitmap. Untungnya, kami masih punya banyak dana dan dukungan dari pemerintah untuk melawan mereka. Artikel-artikel itu adalah hak kami, dan akan kami pertahankan.
Di lantai dua, lebih ke arah internal BNCC. Di sayap kiri, ada kantor SecLib, FDD, redaksi Bitmap dan ruangan yang paling aku takuti, kantor HRD-ODT. Di sayap kanan ada kantor FaveClub, LnT, ruangan pelatihan untuk anggota dan sebuah perpustakaan besar hasil perjuangan seorang mantan ketua internal yang sampai kini telah memiliki fasilitas ribuan buku dan informasi maya. Di tengahnya, tersedia drink booth dan failitas entertainment lainnya yang berganti-ganti themenya setiap bulan.
Dan sekarang aku tengah berjalan menuju lantai tiga. Ada sebuah tangga yang terbuat dari kaca transparan namun kokoh di depanku. Di kiri kanannya dihiasi lampu neon yang bisa fade out dan berganti warna, persis seperti PC keluaran sponsor yang dipamerkan pada BNCC International Launching tahun lalu. "Pasti kerjaan HRD", gumamku. Mereka selalu punya ide-ide gila untuk mendorong seisi BNCC untuk lebih semangat bekerja. Bulan lalu, mereka mengadakan "No-Coffee Week" di mana semua orang selama seminggu, tidak boleh minum kopi dari sebuah vending machine yang disediakan. Yang tertangkap, akan didenda sebungkus kopi dengan merk spesifik yang diminta oleh HRD. Selama seminggu, uang yang semula dialokasikan untuk membeli kopi untuk vending, dipakai untuk membeli bermacam-macam merk kopi lain, hanya untuk meneliti, merk kopi mana yang kualitasnya lebih baik. Dan hasilnya, kopi tersedap yang pernah aku rasakan seumur hidupku.
Pintu lift menuju lantai tiga kini berada di depanku. Kembali tangan kananku merogoh dompetku dan kembali menghabiskan waktu untuk mencari kartu yang tepat... Nah ini dia. [Srret.] "Please enter your PIN", kembali suara cantik itu berbicara padaku. [Tit... tit... tit... tit.. tit... tit...] "Beep ! PIN Error", jawabnya padaku. "Ah, sialan", umpatku dalam hati.
"Hei, Jo ! PIN error lagi ?" sebuah suara mengejutkanku dari belakang. Ah, dia lagi.
"Sini, gua mau tunjukin ini ama elu" sahutnya sambil mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.
Sebuah alat, bentuknya berantakan dengan kabel yang keluar dari sisi-sisi casingnya dan mur yang tidak masuk penuh. "Alat ini akan menyelamatkan elu kali ini ", ujarnya.
"Ah, alat itu lagi. Kalo gua total, udah 13 kali lu bilang begitu ama gua minggu ini", timpalku.
"Iya memang, tapi itu juga berarti udah 13 kali juga lu dapet PIN error, bener, nggak ?" jawabnya balik.
"Kurang ajar... kata-katanya bener", ujarku dalam hati.
Sementara ia menyiapkan alat tersebut, handphone ku bergetar halus. Di layarnya tertera icon amplop menandakan ada message yang baru masuk ke inbox-ku. Kubuka message baru tersebut dan mengalunlah sepenggal dari lagu disko yang tengah booming pada saat ini.
"Ya ampun, norak bener..." ujarku dalam hati.
Setelah itu, muncul tulisan merah besar-besar, "Jo di mn lu ? Cptan sini, bkn design buat eMeFInt." [sigh] Dasar cewek.
Jariku bergerak cepat membalas message tersebut, "Iya. Ini gua lagi di bawah kejebak pintu sialan ini, nggak mau kebuka2. Ke bawah kek, bukain." Beberapa detik kemudian, datang report yang menyatakan, bahwa message-ku is not delivered.
"Sial, selalu memakai taktik begini", umpatku dalam hati. Ya, segera setelah mengirim message, ia pasti mematikan hp-nya, agar message yang berisi alasan untuk menolak, tidak akan pernah sampai ke dia.
"Sudah siap !" jerit temanku.
Ia menekan beberapa tombol berlabel selotip yang asal tempel saja. Alat itu bekerja, dan beberapa detik kemudian, [beep... beep] pintu menuju lantai 3 terbuka lebar.
"Dasar hacker. Otodidaknya boleh juga", ujarku dalam hati.
"Bagaimana ?" tanyanya.
"Biasa saja", jawabku ketus. "Lain kali, selain belajar membuat alat yang GOOD WORKING, belajarlah juga untuk membuat alat yang GOOD LOOKING, ok ?" sambungku sembari pintu lantai tiga menutup tanpa memberinya kesempatan untuk menjawab lebih lanjut.
Lift bergerak pelan menuju lantai tiga. Lantai tiga adalah lantai kerja umum. Di sana ada ruang handicraft, ruang printing, ruang rapat, ruang serbaguna, ruang simulasi dan ruang design di mana aku mendapat satu ruangan pribadi di dalamnya sebagai reward atas jerih payahku selama ini terhadap perkembangan design BNCC. Sesampainya lift di lantai tiga, aku segera bergegas menuju ruanganku. Aku sudah punya cukup banyak kerjaan hari ini, jangan sampai bertambah lagi. Ruang design hari ini ramai sekali. Maklum, dua hari lagi deadline design. "Hai, Jo.", "Hai, Jo.", "Hai, Jo." Sembari aku berjalan terus menerus aku memaksa diri untuk tersenyum dan menjawab, "Hai juga" ke mana-mana.
Ruanganku berada di sudut ruangan design. Dan kini aku tengah berada di sana.
"Yosua Omimaru signing in", ucapku.
"Voice is not recognized, access is denied", jawab suara manis yang keluar dari pintu bertuliskan bornNeo itu.
"Ah, sial..." umpatku.
Kuulangi mantra itu beberapa kali sampai akhirnya pintu mau terbuka juga. Begitu masuk, aku bergegas menuju intercom dan menekan 32, kode ruangan temanku.
"Eh, tolong VoiceReg yang ini diuninstall. Terus install yang versi baru atau cari patchnya atau apalah.. Cuma gara-gara gua flu, masa gua harus ngulangin mantra berkali-kali di depan pintu kayak orang bego lagi ngomong ama pintu ?" ujarku kesal. "Yes, siree. Right away", balas seseorang di intercom tersebut. Aku mematikan intercom dengan agak dongkol.
"Selene ?" aku kembali bersuara.
"Yes, Neo. What can I do for you ?" sebuah suara manis menjawab dari langit-langit.
"Get me a WinAmp. Classic songs. Medium volume", ucapku lagi.
"Command accepted" jawabnya.
"Oh, Selene ?" ucapku lagi saat teringat sesuatu dan kembali langit-langit menjawab, "Yes, Neo ? Another thing in your mind ?"
"Yes, Selene, please block all incoming UDP packets to my network for the next two hours", perintahku.
"Command accepted. UDP network line is inactive for the next two hours."
"Thank you, Selene."
"Your welcome, Neo."
Ah, aku benar-benar sudah jatuh cinta pada software ini. Ini versi terbaru, aku download dari sebuah network underground beserta cracknya bulan lalu.
Kuhampiri meja kerjaku sementara musik klasik mulai mengalun lembut. Altech Lansing ATP36, hadiah dari temanku saat aku mendapatkan ruangan ini. Sebuah layar LCD penuh memo berdiri di mejaku, tampak di layarnya screen saver berupa potongan sebuah film fiksi ilmiah yang sudah lama sekali diputar tapi tetap menggugah pikiranku, Matrix Trilogy.
Kuambil kursi kerja empukku dari sudut ruangan. Entah bagaimana bisa sampai ke sana. Kurasa semalam aku mabuk karena terlalu banyak minum Cola dan makan kentang goreng. Kutarik kembali ke meja dan kuhempaskan tubuhku ke sana. Ada sebotol Cola sisa semalam di pinggir meja. Kuambil dan kuteguk sedikit... ah, otakku mulai bekerja kembali. Imajinasi demi imajinasi dari spanduk, poster, brosur, webview dan semuanya mulai bertebaran di seluruh ruangan. Halusinasi yang membantu sekali, bukan ? Aku meraih mouse-ku, membuka sotware favorite-ku, Photoshop MX dan mulai bekerja. Sebuah poster bernuansa oranye dan hitam kini tengah mengisi pikiranku. Dan aku sudah tahu apa yang akan kubuat.
...
[time passes]
...
"...Neo ?" sebuah suara manis dari langit-langit memanggilku. "Yes, Selene ? What's up ?" jawabku. "There's someone behind the door wishing to meet you. A man from DeviantART", jawabnya kembali. "Oh. Let him in", perintahku.
Seorang pria bule berpakaian rapi, tegap dan penuh percaya diri muncul dari pintu. Aku berdiri dan menyalaminya, lalu mempersilahkan untuk duduk. Aku ingat namanya, James.
"Siree, how are you ? It's been a long time since our encounter, isn't it ?" sapaku.
"I'm fine, thank you. Yes, bornNeo. It's been a very long time since our last. When was it ? Oh, at Canada October WebDesign, if my memory serves me right." Jawabnya dengan aksen Kanada yang kental sekali.
"Ah, yes, that webdesign competition. That was a wonderful time in Canada. By the way, call me Jo, bornNeo is my name on the line. So, sir. What have brought you here ?"
"Oh, Joe, I was in Canada Embassy some hours ago, taking care of this year Canada October WebDesign, when they mentioned me, that your country only had three representatives at the moment."
"Oh, no, no, don't tell me I'm the fourth."
"You've already said it."
"No, you gotta be kidding."
"Hahaha, young man, I know I'm old enough to kid you, but I no kidding right now."
"But there are so many good designers out there ! You can even find tons of them in this buiding."
"Yes, I know, but all I can think is you. Anyway, there's no rule for any past winner to join the competition again. Now tell me from your heart, do you want to join the competition ?"
"...yes, I DO want to join the competition. But I really want to give the chance to those youngsters out there. Can't you think of anyone else ?"
"...no I cant." Ia mengelengkan kepalanya pelan. "Since the first time you came to the DeviantART. I know, we're so lucky having you as one of our members."
"Sir..."
"Neo... tell me what your heart is saying right now."
"...I have to ...join the competition. ...and I ...have to win again."
"Good, it's settled then, Joe. I'll confirm you of our departure for the preliminary in two or three months later", jawabnya sambil berdiri hendak meninggalkan ruangan.
"Yes, sir. Thank you. I'll do my best, sir. And, it's Jo, not Joe.", sahutku sambil ikut berdiri menyalaminya dan mengantarnya keluar sampai ke lift menuju lantai dua.
Dalam perjalananku kembali menuju ruanganku, seorang gadis manis menghampiriku dan berkata, "Designnya udah ? Mau gua bawa ke ruang printing."
"Sudah. Ambil aja dari network, udah gua share, tapi jangan pake UDP, soalnya gua block."
"Iya, Jo."
"Eh, sudah makan malam ?" tanyaku padanya.
Ia tersentak, dan dengan gagap menjawab, "Belum."
"Mau makan malam barengan ?" tanyaku lagi.
"Eh... anu... entar pacar lu gimana... cemburu lagi... lagian... gua banyak kerjaan", jawabnya gagap dengan muka memerah.
"Oh, iya deh. Gua cari orang lain aja. Bye, gua mau ke ruangan gua." Aku beranjak menuju ruanganku dengan tertawa di dalam hati karena mukanya sampai merah padam begitu.
Begitu memasuki ruangan, suara manis dari langit-langit langsung bersuara, "Neo, I detect an established connection from 192.168.0.53, but not using UDP. I'm intercepting it right now waiting for your confirmation."
"Let it go. I know that connection. By the way, change the playlist to Matrix Soundtrack. I need a little rock in this room."
"Yes, Neo."
Tak lama kemudian, musik klasik berhenti mengalun dan digantikan dengan musik rock favorite-ku. Aku menghempaskan diri ke sofa sambil memandang langit-langit. Aku tersenyum, pacarku menempeli seluruh bagian langit-langit dengan bintang-bintang glow in dark. Pelan-pelan aku tertidur dan akhirnya...
...
...
...aku bermimpi.
bornNeo wrote the thought on 10:14 PM.
---------------------------------bornNeo---------------------------------
Comment my thought >>
|